DESAHAN NIKMAT RIRIN

|| || || Leave a komentar

"Maaf mas, aku tak bisa," begitu Rianti menolak keinginan suaminya di waktu malam.
"Ririn, aku kan suamimu," suaminya mengingatkannya.
"Aku tahu. Tapi maaf mas, cukup sampai di sini saja. Aku sadar, walau aku masih tetap melayanimu malam ini, tetap akan mustahil."
"Tapi tidak ada salahnya kan kita tetap mencoba. Aku tak akan menyerah Rin, ayolah!"
Ririn terdiam di kursi dekat pintu. Suaminya mendekatinya perlahan, kemudian membelai rambutnya. Tetesan air mata Ririn mulai berjatuhan ke roknya yang kusut karena ulah suaminya barusan. Ririn menyadari hal menolak ajakan suami yang syah oleh agama adalah sebuah dosa. Dirinya menyadari akan dosa itu, karena tidak ada halangan malam itu. Iya dirinya tidak sedang haid. Tapi apa dikata, penolakan itu dilakukan kaena hatinya semenjak seminggu kemarin mulai rapuh oleh keadaan. Malam itu, mungkin bisa dianggap sebagai hari pembalasan akan sakit hatinya.
"Aku iya mas. Aku menyerah. Aku menyerah dengan keadaan ini. 
Lebih baik mas cari yang lain. Bukankah ibu menyarankan hal itu kan, mas?" 
"Tidak Ririn. Aku sudah berjanji dulu, aku tak akan meninggalkanmu kecuali kematian yang memisahkan kita."
"Kamu tak bahagia dengan pernikahan ini mas."
"Hmmm kata siapa? Aku bahagia."
"Bohong. Itu hanya sekadar kata-kata."
"Ririn," suaminya menyebut nama Ririn kembali. Kali ini ucapan itu terdengar memancing hasrat, persis di samping telinga. "Aku akan tetap mencintaimu, bagaimanapun keadaannya."
Ririn paham kata-kata itu, dan ucapan itu terdengar lagi malam itu. Pertama kali kalimat itu terucap oleh suaminya saat dirinya dan suaminya masih berpacaran. Saat itu dunia menyaksikan dua sejoli di antara belahan batu di bawah jembatan. 
Cerita panas waktu itu hanya seperti mimpi, diterbangkan khayalan. Ririn di setiap mendengar kalimat itu, pastilah kemudian terbawa rayuan. Layaknya hipnotis, Ririn akan menyerahkan semuanya termasuk dulu ketika kegadisannya mulai hilang hanya karena kata-kata itu. Namun berbeda dengan malam itu, tekadnya telah bulat untuk menghindari, bahkan berterus terang menolaknya.
"Maaf mas, hormati keputusanku," Ririn menghindar. 
"Apa salahku? Aku mencintaimu, Rin."
"Keberadaanku di sini tidak membawa kebahagiaan bagi seisi rumah ini mas. Dan aku tahu, itu karena aku. Karena kemandulanku ini."
"Tidan Ririn. Aku bahagia," kalimat itu terucap kembali.
"Mamamu? Papamu? Apa mereka bahagia. Mereka juga ingin meminang cucu mas. Dan kalau hal ini dibiarkan, cita-cita mereka akan hilang. Mas anak tunggal, tak akan mungkin kalau hanya mengandalkanku."
"Lantas maumu?"
"Ceraikan aku! Dan cari penggantinya."
Suaminya kaget mendengar kata-kata itu. Dilepaskannya belaian dari rambut Ririn.
"Rin, aku mencintaimu. Aku tidak akan meninggalkanmu,itu sudah janjiku dulu. Kita bisa mengadopsi anak bukan?"
"Mas, tak semudah itu. Mama dan papamu pasti akan menuntut. Bukan hanya sebatas meminang cucu mas. Tapi seandainya pernikahan ini dipertahankan sampai garis kematian, garis keturunan mama dan papa hanya akan berhenti sampai kamu mas. Itu artinya........."
"Sudah Ririn sayangku, aku akan menepati janjimu. Di dunia ini hanya engkau yang aku sayang, hanya kamu Ririn."
"Cukup mas. Kebahagian tak hanya cukup oleh janji dan pemenuhannya. Okelah, terima kasih atas janjimu itu. Dan aku ikhlas jika kamu mencabut janji-janjimu itu. Aku bersumpah, sampai kapanpun aku tak akan menagih janji-janjimu itu lagi. Iya mulai detik ini mas." 
Suaminya tidak berkomentar. Hasrat malam itu dengan cepatnya hilang. Dirinya tak berani lagi merayu Ririn malam itu. Memaksapun dirinya tak tega, karena berhubungan dengan paksaan pastinya tak akan memberikan kenikmatan. Dilangkahkan kakinya menuju pintu, berniat untuk tidur di sofa kamar tamu. Empat langkah lima langkah terlalui, terdengar ucapan permohonan serius dari Ririn.
"Maafkan aku mas!"
Suaminya menoleh dan kemudian mengangguk lemas. Ririn memandangi suaminya keluar hingga yang dipandangi tertelan oleh pintu yang ditutup dari luar. Ririn menangis. Cintanya tak semulus dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Namun demi cinta, dia telah bertekad untuk mendaftar ke pengadilan agama hari esoknya. Cerai harus dilakukan, harus dilakukan agar yang dicintainya memperoleh bahagia. 
"Aku rela mas, kamu jadi milik orang lain. Asal kamu bahagia."
Mata Ririn mengambang lagi. Tak lama tangis terdengar sedu berlomba dengan gemericik hujan. Suara itu menemani Ririn bermain cinta sendirian malam itu. hiks hiks hiks........ (ada yang mau nemenin? hhhhhh)
/[ 0 komentar Untuk Artikel DESAHAN NIKMAT RIRIN]\

Posting Komentar